Rabu, 04 September 2013

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI



Istilah yang mengandung kata bio sedang tren sekarang ini, sebagai upaya untuk menanggulangi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.  Sejak sekolah dasar kita diajari bahwa sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan habis bila digunakan terus menerus, apalagi seperti sekarang ini dimana jumlah pengguna dalam hal ini manusia, meningkat beberapa kali lipat dibanding tahun 80-an.  Beberapa istilah yang sedang tren diantaranya adalah bioetanol dengan sumber energi berasal dari tanaman jarak pagar.  Dan yang sedang tren di prima tani kabupaten Subang adalah biogas, yang sumber energinya berasal dari kotoran ternak.

Proses yang terjadi dalam biogas sendiri merupakan proses fermentasi, energi yang dihasilkan dari biogas dimanfaatkan untuk memasak seperti halnya gas elpiji. Biogas diharapkan bisa dijadikan alternatif oleh petani atau peternak untuk menggantikan minyak tanah, mengingat minyak tanah akan habis masa subsidinya sehingga harganya akan melambung.  Biogas memungkinkan dilakukan di Desa Sindanglaya karena petani ada yang mempunyai ternak sapi meskipun dengan jumlah sedikit. Dengan memanfaatkan biogas petani tidak perlu membeli kotoran ternaknya, hanya perlu mengeluarkan modal untuk pembuatan reaktor biogasnya saja.  Selain menghasilkan gas, biogas juga menghasilkan buangan berupa kotoran sapi yang sudah melalui proses fermentasi di dalam tabung reaktor. Kotoran sapi yang keluar merupakan kotoran sapi yang sudah matang, dengan kata lain siap untuk digunakan sebagai pupuk organik.

Kotoran ternak yang digunakan bisa berasal dari kotoran sapi maupun ternak lain seperti domba atau kambing. Namun untuk biogas di Desa Sindanglaya menggunakan kotoran sapi, pemilihan kotoran sapi karena lebih mudah dalam proses pengerjaan karena produksi kotoran dari ternak sapi volumenya lebih banyak dibandingkan domba atau kambing, sehingga memudahkan dalam pengumpulannya.  Selain itu kotoran sapi lebih mudah pada waktu pencampuran dengan air, dibandingkan dengan kotoran domba atau kambing yang lebih padat, sehingga harus dihancurkan terlebih dahulu.
Alat-alat yang diperlukan untuk menghasilkan biogas adalah
  1. Reaktor berkapasitas 3500 liter yang terbuat dari fiberglass, bahan reaktor selain dari fiberglass dapat juga menggunakan drum bekas atau plastik yang berukuran besar dengan syarat kedap udara untuk mencegah kebocoran gas.
  2. Selang
  3. Drum pengumpan yang bisa dibuat dari drum kecil bekas
  4. Pengaman gas untuk membuang kelebihan gas
  5. Plastik penampung gas, yang berfungsi untuk menampung gas seperti halnya tabung elpiji
  6. Kompor biogas
  7. Blower, alat ini dipasang pada kompor biogas. blower berfungsi untuk membantu menyedot gas dari penampung gas, karena gas yang dihasilkan dari biogas merupakan gas bertekanan rendah sehingga memerlukan bantuan blower untuk memperkuat tekanannya.
  8. Selang elasti 20 meter
  9. Pipa inlet dan outlet
  10. Penutup drum umpan
proses perakitannya sendiri dilakukan antara teknisi dari perusahaan penyedia biogas dengan para petani, petani disertakan dalam proses perakitan diharapkan agar petani/peternak memahami proses pemasangan dan proses pembentukan gas. Setelah dirakit, maka dilakukan pengisian kotoran ternak ke dalam tabung reaktor.  Kotoran ternak dimasukkan melalui bak pengumpan, di dalam bak pengumpan kotoran ternak dicampur dengan air dengan perbandingan kira-kira 1:1, 1 ember kotoran ternak dicampur dengan 1 ember air, atau sampai campuran kotoran ternak dengan air terlihat tidak terlalu encer maupun tidak terlalu pekat.  Sisa-sisa pakan ternak yang terbawa pun dibuang pada waktu pencampuran. setelah bak pengumpan penuh kemudian penutupnya dibuka sehingga campuran kotoran ternak dengan air masuk ke dalam reaktor, di dalam reaktor inilah akan terjadi proses fermentasi, dimana hasil dari fermentasi yaitu pelepasan panas dan gasnya disalurkan melalui selang ke plastik penampung.  Gas mulai terbentuk pada hari ke-5, yang ditandai dengan mulai mengelembungnya plastik penampung, pada hari ke-15 atau sekitar 2 minggu gas yang terbentuk semakin banyak seiring dengan penuhnya isi tabung reaktor oleh kotoran sapi.

Tabung fiberglas yang digunakan mempunyai volume + 3500 liter, untuk mengisi tabung itu diperlukan + 1200 kg kotoran ternak.  Setelah reaktor penuh pengisian reaktor hanya dilakukan seperlunya saja.  Menurut teknisi dari perusahaan biogas, gas yang ditampung dalam plastik penampung berukuran + 2500 liter dapat digunakan untuk memasak selama 6 jam.  Petani yang menggunakan biogas biasa menggunakan biogas untuk memasak selama + 2,5 jam setiap harinya. Dengan penggunaan selama 2,5 jam setiap hari, masih tersisa gas dalam plastik penampung.  Dengan penggunaan seperti itu, petani cukup mengisi kotoran sapi sebanyak 2 ember yang dilakukan 2 hari sekali.

Proses pemasangannya pun tidak berjalan sempurna karena ada kebocoran di tabung reaktor. Tapi hal ini justru menyebabkan petani menjadi lebih memperhatikan Reaktor biogas.  Setelah berbagai macam perbaikan, sampai akhirnya reaktor biogas dapat menghasilkan gas dengan sempurna. Sebelum menyalakan kompor  biogas steker dari blower dimasukkan ke stop kontak, kemudian kran kompor dibuka dengan cara diputar ke arak kanan.  Setelah gas dirasakan keluar, baru kemudian korek api dinyalakan, maka menyambarlan gas ke api dari korek api, keluarlah si api biru yang dinanti-nanti. Dan keluarlah komentar bahagia dari petani seperti judul suatu acara di televisi “akhirnya datang juga...”, dari kotoran sapi yang berwarna hijau keluarlah api yang warnanya biru.


Sumber : Deptan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas komentar santun